Rabu, 03 Agustus 2011

Puasa dan Pendidikan Karakter

Alhamdulillahi rabbil alamin, kita telah berada di hari keempat bulan puasa/ramadhan 1432 H, semoga amalan kita diterima disisi-Nya. Momentum puasa kali ini, seyogyanya digunakan segenap umat muslim untuk meningkatkan kualitas ibadahnya; baik ibadah vertikal (kepada Allah Swt) maupun ibadah horisontal (sesama makhluk hidup).

Melalui firman-Nya dalam Quran Surat Al-Baqarah ayat 183, Allah Swt memerintahkan ibadah puasa agar umat muslim mencapai derajat taqwa. 
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, supaya kamu menjadi orang yang bertaqwa.

Secara kontekstual, ibadah puasa bukan sekedar dimanifestasikan dalam rutinitas sholat tarawih, tadarus Al Quran, zakat fidiyah, makan sahur, menahan lapar dan dahaga, kemudian berbuka setelah waktunya tiba. Tetapi, puasa mengandung maksud dan misi yang mulia, yaitu misi sosial yang berbalut keyakinan transendental.

Misi sosial yang dimaksud adalah puasa yang dilakukan dengan sebenar-benarnya, akan menjadi mediasi menggugah kesadaran filantropi. Yaitu sebuah kesadaran untuk menderma dan menyalurkan bantuan bagi mereka yang tidak mampu, fakir miskin dan anak yatim.

Sementara, misi transendental puasa tidak lain karena Allah Swt sajalah yang mengetahui kualitas puasa kita. Oleh karena itu, puasa menuntut kejujuran, kebersihan hati dan tanggungjawab dari pelakunya, agar nilai ibadah puasanya bisa diterima Allah Swt.

Membangun Karakter
Puasa yang dalam Al Quran disebut dengan kata shiyam, berakar pada kata sha-wa-ma yang bermakna menahan, berhenti, dan tidak bergerak. Oleh karena itu, secara syariat puasa berarti menahan diri dari makan, minum, dan upaya melakukan hubungan seksual dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

Menurut M Quraish Shihab (2000), kata shiyam atau shaum makna
esensinya adalah menahan atau mengendalikan diri. Maka, puasa itu memiliki kesamaan dengan sifat sabar, baik secara esensi maupun ketika berpuasa.

Sementara menurut sebagian besar ulama, puasa diartikan sebagai tindakan yang menahan diri dari makan, minum, dan pergaulan suami istri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Menurut kajian tasawuf, ibadah puasa bertujuan memperteguh hati guna menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan tercela dan melanggar ajaran Islam. Oleh karena itu, puasa bukan sekadar amal ibadah fisik, melainkan juga amal ibadah rohani yang dapat menyelamatkan dan menyejahterakan manusia dari kehidupan lahir dan batin, di dunia dan di akhirat.

Dari berbagai definisi dan pengertian itu, sejatinya puasa amat relevan dengan agenda besar bangsa ini. Ketika bangsa ini tengah dibingungkan formulasi menata karakter dan moralitas generasi penerus. Yaitu agenda untuk membangun dan memperbaiki karakter bangsa.

Dengan kata lain, puasa menjadi sarana efektif penanaman sekaligus pengaplikasian pendidikan karakter. Beberapa karakter penting yang bisa digali dari pelaksanaan ibadah puasa diantaranya: Pertama, puasa mengajari kita untuk senantiasa menahan dan mengendalikan diri. Karakter ini sangat dibutuhkan bukan hanya orang kaya, miskin, pandai, bodoh, pejabat, rakyat dan sebagainya.

Jika karakter ini sudah tertanam dan tumbuh subur dalam setiap pribadi bangsa, maka tidak akan ada lagi praktik korupsi, kolusi, nepotisme (KKN), atau praktik-praktik tercela lain.

Kedua, ketika berpuasa kita juga dilatih dan ditempa untuk sabar, peduli akan sesama, rajin dalam beribadah dan aktivitas-aktivitas positif lainnya, disiplin dan peneladanan sifat-sifat Tuhan kepada diri manusia.

Karakter sabar, disiplin, rajin dan peduli ini, sangat penting perannya guna membawa bangsa bangkit dari krisis berkepanjangan. Sikap sabar dan tabah juga akan menempa setiap pribadi bangsa untuk berlapang dada ketika segenap usaha yang dilakukan, belum menemukan titik keberhasilan.

Ketiga, puasa mengajari kita untuk memiliki kepekaan (sense of responsibility) sensibilitas dan adalah tanggungjawab sosial maupun pribadi. Salah satu hikmah puasa, tulis Ahmad Fuad Fanani (2007), adalah penanaman solidaritas sosial dengan anjuran berbuat baik sebanyak-banyaknya, terutama dalam bentuk tindakan menolong beban kaum fakir miskin. Jika hal ini bisa terus berjalan pada waktu lain di luar bulan puasa, maka akan menjadi karakter bangsa yang patut disyukuri.

Tafsir yang lebih luas, solidaritas sosial yang terpancar dalam diri setiap pribadi muslim, menjadi bukti menyatunya keimanan dan amal saleh (perbuatan kebajikan). Dengan kata lain, puasa yang mulanya merupakan implementasi dari rukun agama semata, kemudian menjadi sebuah laku sosial yang sangat konstruktif. Karakter utama inilah yang diharapkan mampu menempa setiap pribadi bangsa sehingga menjadi pendulum perubahan dan perbaikan.

Keempat, melalui puasa, selama sebulan penuh kita dan umat muslim pada umumnya akan dilati, digembleng mempererat dan memperkokoh persaudaraan, senasib-sepenanggungan, mencintai dan menyayangi keluarga, memakmurkan tempat-tempat ibadah dan sebagainya.

Keteladanan
Agar pendidikan karakter yang dibawa puasa bisa optimal, khususnya bagi anak-anak dan generasi muda, faktor keteladanan menjadi penting. Artinya, orang tua atau yang dituakan harus menjadi tauladan baik itu laku, amal, pikir, kata dan perbuatan. Ketika anak melihat orang tuanya disiplin menjalankan ibadah puasa, melakukan tadarus, sholat-sholat sunat, bersedekah, dan prilaku mulia lainnya, dengan perlahan-lahan mereka akan melakukannya. Hal itu karena keteladanan sudah dibuktikan banyak peneliti pendidikan sebagai media pembelajaran yang bisa optimal dan efektif.

Sudah saatnya, pendidikan karakter dan misi mulia lain yang dibawa puasa, kita gali bersama-sama untuk selanjutnya dimanifestasikan bagi perbaikan bangsa. Maka pemahaman kita terhadap ibadah puasa, mestinya tidak hanya dalam bentuk formalitas atau rutinitas belaka.

Pemaknaan tentang pahala yang dijanjikan dalam teks-teks keagamaan mesti dilihat secara holistik, baik makna tersurah (nyata) maupun yang tersirat (simbolis). Kita berharap, dengan berakhirnya ibadah puasa nanti, sedikit-banyak karakter dan moralitas setiap pribadi bangsa akan terbangun.

Dengan kata lain, karakter mulia itua akan membangun sebuah kesalehan baik vertikal maupun horisontal, yang terejawantahkan dalam laku dan perbuatan sehari-hari.

Akhirnya, Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal baik dalam konteks melaksanakan ibadah puasa dengan surga yang berisi kenikmatan-kenikmatan tiada taranya.
(Ditulis oleh Agus Widodo, Peniliti pada Program Pasca Sarjana UNY).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar